Aku akan sedikit cerita flash back napa aku memilih profesi pengacara sebagai pilihanku.. Sejak kuliah S1 di Universitas Negeri Jember aku sudah memiliki kenalan pengacara2 di Jember meskipun hanya sebagian kecil dari anggota Peradi di Jember. Aku memang sudah menjadi hadirin setia di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Jember meskipun hanya sekedar melihat-lihat sidang ataupun hanya melihat jadual sidang. Hal itu rutin aku lakukan setelah pulang kuliah siang hari. Dari kegemaranku itu, aku mulai memberanikan diri untuk memulai berinteraksi dengan para pengacara yang sedang menunggu antrian sidang di kantin Pengadilan. Dari hanya satu orang pengacara, akhirnya aku bisa mendapatkan kenalan lebih dari 10 orang pengacara di Jember dan ternyata salah satu om dari mantan suamiku juga menjadi pengacara di Jember. Dari sejak itu akhirnya aku selalu diajak untuk sidang dan segala kegiatan murni yang dilakukan seorang pengacara dari pendampingan penyidikan, penangguhan penahanan dll. Meskipun disini aku hanya sebagai pupuk bawang, tapi aku punya tekad harus bisa mengambil ilmu yang dimiliki oleh para senior itu.

Berawal dari kegemaran yang iseng dan berlebihan terhadap dunia hukum, akhirnya ide untuk menjadi seorang pengacara mulai terbersit setelah lulus dari S1. Tapi aku ragu juga akan ideku itu apakah ortuku menyetujuinya cz yang aku tahu mami papiku pengen anak2nya menjadi PNS atau sengga2nya pegawai yang mempunyai gaji tetap setiap bulan. Tahun 2008 setelah lulus kuliah, aku bingung mau meneruskan study apa. Yang aku tahu kekhususan profesi hanya sebagai advokat dan seorang notaris. Dan aku memutuskan S2 di depok UI meskipun sekarang aku akui kuliahku itu agak terbengkalai karena trnyata aku lebih senang dengan profesi pengacara meskipun pasang dan surut. 

Pertama kali aku bingung bagaimana cara menyatakan kepada ortu atas keinginanku ingin mengambil profesi seorang Pengacara. aku menunggu waktu yang tepat dan hari itu aku memberanikan diri untuk bicara kepada mami.. dan apa Jawaban dri mami sungguh mengejutkanku..
Jawaban pertama yang keluar dari mami "Apakah pengacara itu akan terus laku??"
Oh my god aku langsung kena penalti.. tapi karena niat yang penuh , aku menjawab aku hanya ingin mengambil ilmunya saja. Mamiku bilang lagi " OK tapi kamu tdak harus berpusat pada satu profesi itu. Kalau ada kesempatan kerja yang lebih baik, kamu harus menjadikan profesi itu hanya sebagai sampingan". Aku mengiyakan aja yang penting ikut sekolah PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) dulu.

Dari situlah aku mulai melebarkan sayap di dunia hukum meskipun rasanya masih belum bisa terbang jauh.. hehehe.. GPP kata orang Jawa ALON_ALON sing penting Kelakon.. Oye..

Hanya pesan dari aku.. Cita-cita itu pasti akan terwujud karena niat, keinginan, usaha dan doa..
Pasang surut sepi rame semua sudah ditakdirkan Tuhan YME..

Sekarang aku hanya akan membuktikan kepada ortu bahwa pilihanku tidak salah.. amien.
 


Comments




Leave a Reply